SIKLUS MENSTRUASI

Definisi Haid

Haid ialah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium.

Sistem reproduksi wanita menjalani serangkaian perubahan siklik teratur yang dikenal sebagai siklus haid. Yang paling mencolok dari perubahan-perubahan ini adalah perdarahan vagina berkala akibat terlepasnya lapisan endometrium uterus.

Panjang siklus haid ialah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus. Karena jam mulainya haid tidak diperhitungkan dan tepatnya waktu keluar haid dari ostium uteri eksternum tidak dapat diketahui, maka panjang siklus mengandung kesalahan 1 hari. Panjang siklus haid yang normal atau dianggap sebagai siklus haid yang klasik ialah 28 hari, tetapi variasinya cukup luas, bukan saja antara beberapa wanita tetapi juga pada wanita yang sama. Selang waktu antara ovulasi dan hingga awitan perdarahan menstruasi relative spontan dengan rata-rata 14 ± 2 hari pada kebanyakan wanita. Rata-rata panjang siklus haid pada gadis usia 12 tahun ialah 25,1 hari, pada wanita usia 43 tahun 27,1 hari, dan pada wanita usia 55 tahun 51,9 hari. Jadi, sebenarnya panjang siklus haid 28 hari itu tidak sering dijumpai. Dari pengamatan Hartman pada kera ternyata bahwa hanya 20% saja panjang siklus haid 28 hari. 

Lama haid biasanya antara 3-5 hari, ada yang 1-2 hari diikuti darah sedikit-sedikit kemudian, dan ada yang sampai 7-8 hari. Pada setiap wanita biasanya lama haid itu tetap.

Jumlah darah yang keluar rata-rata 33,2 16 cc. Pada wanita yang lebih tua biasanya darah yang keluar lebih banyak. Pada wanita dengan anemi defisiensi besi jumlah darah haidnya juga lebih banyak. Jumlah darah haid lebih dari 80 cc dianggap patologik. Darah haid tidak membeku; ini mungkin disebabkan fibrinolisin.

Kebanyakan wanita tidak merasakan gejala-gejala pada waktu haid, tetapi sebagian kecil merasa berat di panggul atau merasa nyeri (dismenorea). Usia gadis remaja pada waktu pertama kalinya mendapat haid (menarche) bervariasi lebar, yaitu antara 10 – 16 tahun, tetapi rata-ratanya 12,5 tahun. Statistik menunjukkan bahwa usia menarche dipengaruhi faktor keturunan, keadaan gizi, dan kesehatan umum.

 Profil Hormonal Selama Siklus Haid

Sekarang diketahui bahwa dalam proses ovulasi harus ada kerja sama antara korteks serebri, hipotalamus, hipofisis, ovarium, glandula tiroidea, glandula suprarenalis, dan kelenjar-kelenjar endrokrin lainnya. Yang memegang peranan penting dalam proses tersebut adalah hubungan hipotalamus, hipofisis, dan ovarium (hypothalamic-pituitary-ovarian axis), Menurut teori neurohumoral yang dianut sekarang, hipotalamus mengawasi sekresi hormon gonadotropin oleh adenohipofisis melalui sekresi neurohormon yang disalurkan ke sel-sel adenohipofisis lewat sirkulasi portal yang khusus. Hipotalamus menghasilkan faktor yang telah dapat diisolasi dan disebutGonadotropin Releasing Hormone (Gn RH) karena dapat merangsang pelepasanLuteinizing Hormone (LH) dan Follicle Stimulating Hormone (FSH) dari hipofisis.

Siklus haid normal dapat dipahami dengan baik dengan membaginya atas dua fase dan 1 saat, yaitu fase folikuler, saat ovulasi, dan fase luteal. Perubahan-perubahan kadar hormon sepanjang siklus haid disebabkan oleh mekanisme umpan balik (feedback) antara hormon steroid dan hormon gonadotropin. Estrogen menyebabkan umpan balik negatif terhadap FSH, sedangkan terhadap LH estrogen menyebabkan umpan balik negatif jika kadarnya rendah, dan umpan balik positif jika kadarnya tinggi. Tempat utama umpan balik terhadap hormon gonadotropin ini mungkin pada hipotalamus.

Tidak lama setelah haid mulai, pada fase folikuler dini, beberapa folikel berkembang oleh pengaruh FSH yang meningkat. Meningkatnya FSH ini disebabkan oleh regresi korpus luteum, sehingga hormon steroid berkurang. Dengan berkembangnya folikel, produksi estrogen meningkat, dan ini menekan produksi FSH; folikel yang akan berovulasi melindungi dirinya sendiri terhadap atresia, sedangkan folikel-folikel lain mengalami atresia. Pada waktu ini LH juga meningkat, namun peranannya pada tingkat ini hanya membantu pembuatan estrogen dalam folikel. Perkembangan folikel yang cepat pada fase folikel akhir ketika FSH mulai menurun, menunjukkan bahwa folikel yang telah masak itu bertambah peka terhadap FSH. Perkembangan folikel berakhir setelah kadar estrogen dalam plasma jelas meninggi. Estrogen pada mulanya meninggi secara berangsur-angsur, kemudian dengan cepat mencapai puncak-nya. Ini memberikan umpan balik positif terhadap pusat siklik, dan dengan lonjakan LH (LH-surge) pada pertengahan siklus, mengakibatkan terjadinya ovulasi. LH yang meninggi itu menetap kira-kira 24 jam dan menurun pada fase luteal. Mekanisme turunnya LH tersebut belum jelas. Dalam beberapa jam setelah LH meningkat, estrogen menurun dan mungkin inilah yang menyebabkan LH itu menurun. Menurunnya estrogen mungkin disebabkan oleh perubahan morfologik pada folikel. Mungkin pula menurunnya LH itu disebabkan oleh umpan balik negatif yang pendek dari LH terhadap hipotalamus. Lonjakan LH yang cukup saja tidak menjamin terjadinya ovulasi; folikel hendaknya pada tingkat yang matang, agar ia dapat dirangsang untuk berovulasi. Pecahnya folikel terjadi 16 – 24 jam setelah lonjakan LH. Pada manusia biasanya hanya satu folikel yang matang. Mekanisme terjadinya ovulasi agaknya bukan oleh karena meningkatnya tekanan dalam folikel, tetapi oleh perubahan-perubahan degeneratif kolagen pada dinding folikel, sehingga ia menjadi tipis. Mungkin juga prostaglandin F2 memegang peranan dalam peristiwa itu.

Pada fase luteal, setelah ovulasi, sel-sel granulosa membesar, membentuk vakuola dan bertumpuk pigmen kuning (lutein); folikel menjadi korpus luteum. Vaskularisasi dalam lapisan granulosa juga bertambah dan mencapai puncaknya pada 8-9 hari setelah ovulasi.

Luteinized granulosa cells dalam korpus luteum itu membuat progesterone banyak, dan luteinized theca cells membuat pula estrogen yang banyak, sehingga kedua hormon itu meningkat tinggi pada fase luteal. Mulai 10-12 hari setelah ovulasi korpus luteum mengalami regresi berangsur-angsur disertai dengan berkurangnya kapilar-kapilar dan diikuti oleh menurunnya sekresi progesteron dan estrogen. Masa hidup korpus luteum pada manusia tidak bergantung pada hormon gonadotropin, dan sekali terbentuk ia berfungsi sendiri (autonom). Namun, akhir-akhir ini diketahui untuk berfungsinya korpus luteum, diperlukan sedikit LH terus-menerus. Steroidegenesis pada ovarium tidak mungkin tanpa LH. Mekanisme degenerasi korpus luteum jika tidak terjadi kehamilan belum diketahui. Empat belas hari sesudah ovulasi, terjadi haid. Pada siklus haid normal umumnya terjadi variasi dalam panjangnya siklus disebabkan oleh variasi dalam fase folikuler.

Pada kehamilan, hidupnya korpus luteum diperpanjang oleh adanya rangsangan dari Human Chorionic Gonadotrophin (HCG), yang dibuat oleh sinsisiotrofoblast. Rangsangan ini dimulai pada puncak perkembangan korpus luteum (8 hari pascaovulasi), waktu yang tepat untuk mencegah terjadinya regresi luteal. HCG memelihara steroidogenesis pada korpus luteum hingga 9 – 10 minggu kehamilan. Kemudian, fungsi itu diambil alih oleh plasenta.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa kunci siklus haid tergantung dari perubahan-perubahan kadar estrogen. Pada permulaan siklus haid meningkatnya FSH disebabkan oleh menurunnya estrogen pada fase luteal sebelumnya. Berhasilnya perkembangan folikel tanpa terjadinya atresia tergantung pada cukupnya produksi estrogen oleh folikel yang berkembang. Ovulasi terjadi oleh cepatnya estrogen meningkat pada pertengahan siklus yang menyebabkan lonjakan LH. Hidupnya korpus luteum tergantung pula pada kadar minimum LH yang terus menerus. Jadi, hubungan antara folikel dan hipotalamus bergantung pada fungsi estrogen, yang menyampaikan pesan-pesan berupa umpan balik positif atau negatif. Segala keadaan yang menghambat produksi estrogen dengan sendirinya akan mempengaruhi siklus reproduksi yang normal.

Siklus Ovarium

Ovarium mengalami perubahan-perubahan dalam besar, bentuk, dan posisinya sejak bayi dilahirkan hingga masa tua seorang wanita. Pada masa pubertas ovarium berukuran 2,5-5 cm panjang, 1,5-3 cm lebar, dan 0,6 -1,5 tebal. Pada salah satu pinggirnya terdapat hilus, tempat keluar-masuknya pembuluh-pembuluh darah dan serabut-serabut saraf. Ovarium dihubungkan oleh mesovarium dengan ligamentum latum, dan oleh ligamentum ovarii proprium dengan uterus. Permukaan ovarium ditutupi oleh satu lapis sel kubik yang disebut germinal epitelium. Di bawahnya terdapat tunika albugenia yang kebanyakan terdiri dari serabut-serabut jaringan ikat.

Pada garis besarnya ovarium terbagi atas dua bagian, yaitu korteks dan medulla. Korteks terdiri atas stroma yang padat, di mana terdapat folikel-folikel dengan sel telurnya. Folikel dapat dijumpai dalam berbagai tingkat perkembangan, yaitu folikel primer, sekunder, dan folikel yang masak (Folikel de Graaf). Juga ada folikel yang telah mengalami degenerasi yang disebut atresia folikel. Dalam korteks juga dapat dijumpai korpus rubrum, korpus luteum, dan korpus albicans.

Makin muda usia wanita makin banyak folikel dijumpai. Pada bayi baru lahir terdapat 400.000 folikel pada kedua ovarium, Rata-rata hanya 300-400 ovum yang dilepaskan selama masa reproduksi. Pada masa pascamenopause sangat jarang dijumpai folikel karena kebanyakan telah mengalami atresia. Dalam medulla ovarium terdapat pembuluh-pembuluh darah, serabut-serabut saraf, dan jaringan ikat elastis.

Pada masa kanak-kanak ovarium boleh dikatakan masih beristirahat dan baru pada masa pubertas mulai menunaikan faalnya. Perubahan-perubahan yang terdapat pada ovarium pada siklus haid ialah sebagai berikut. Di bawah pengaruh FSH beberapa folikel mulai berkembang; akan tetapi, hanya satu yang tumbuh terus sampai menjadi matang. Pada folikel ini mula-mula sel-sel sekeliling ovum berlipat ganda dan kemudian di antara sel-sel itu timbul suatu rongga yang berisi cairan yang disebut likuor folikuli. Ovum sendiri terdesak ke pinggir, dan terdapat di tengah tumpukan sel yang menonjol ke dalam rongga folikel. Tumpukan sel dengan ovum di dalamnya itu disebut kumulus ooforus.

Antara ovum dan sel-sel sekitarnya terdapat zona pellusida. Sel-sel lainnya yang membatasi ruangan folikel disebut membrana granulosa. Dengan tumbuhnya folikel, jaringan ovarium sekitar folikel tersebut terdesak ke luar dan membentuk dua lapisan, yaitu teka interna yang banyak mengandung pembuluh darah dan teka eksterna terdiri dari jaringan ikat yang padat. Dengan bertambah matang folikel hingga akhirnya matang benar, dan oleh karena pembentukan cairan folikel makin bertambah, maka folikel makin terdesak ke permukaan ovarium, malahan menonjol ke luar. Sel-sel pada permukaan ovarium menjadi tipis, dan pada suatu waktu oleh mekanisme yang belum jelas betul, folikel pecah dan keluarlah cairan dari folikel bersama-sama ovum yang dikelilingi sel-sel kumulus ooforus.

Peristiwa ini disebut ovulasi. Sel-sel granulosa yang mengelilingi ovum yang telah bebas itu disebut korona radiata.

Sel-sel dari membrana granulosa dan teka interna yang tinggal pada ovarium membentuk korpus rubrum yang berwarna merah oleh karena perdarahan waktu ovulasi, dan yang kemudian menjadi korpus luteum. Korpus luteum berwarna kuning karena mengandung zat kuning yang disebut lutein; ia mengeluarkan hormon progesteron dan estrogen. Jika tidak terjadi pembuahan (konsepsi), setelah 8 hari korpus luteum mulai berdegenerasi dan setelah 14 hari mengalami atrofi menjadi korpus albikans (jaringan parut). Korpus luteum tadi disebut korpus luteum menstruasionis. Jika terjadi konsepsi, korpus luteum sinsisiotrofoblas dari korion. Ini dinamakan korpus luteum graviditatis dan berlangsung hingga 9-10 minggu.

Pada manusia, ovulasi biasanya terjadi hanya dari satu ovarium, walaupun kadang-kadang lebih dari satu folikel dapat pecah pada satu waktu yang dapat menghasilkan kehamilan kembar dizigotik. Ovum yang dilepaskan berukuran kira-kira 150 u dan cepat mengalami degenerasi kecuali jika terjadi fertilisasi.

Fertilisasi biasanya terjadi dalam tuba dekat dengan fimbrium-fimbrium. Perjalanan ovum di tuba memakan waktu selama 3 hari, dan implantasi blastokist pada uterus biasanya terjadi 6-7 hari setelah fertilisasi.

Perubahan Siklik Pada Saluran Reproduksi Wanita

Sebagai konsekuensi dari laju sekresi estrogen dan progesteron yang berubah-ubah sepanjang siklus haid, maka saluran reproduksi wanita mengalai serangkaian perubahan siklik secara teratur. Perubahan-perubahan ini dapat dikenali dari pemeriksaan histologi endometrium, komposisi dan tampilan lendir serviks, dan ciri-ciri sitologik epitel vagina. Akhir dari setiap siklus ditandai oleh perdarahan uterus yang berlangsung 3-7 hari.

Histologi Endometrium Sepanjang Siklus Haid

Endometrium terdiri dari dua lapisan atau zona berbeda baik dari tampilan histologis maupun kepekaan fungsional terhadap rangsang hormonal, yaitu: lapisan basal dan lapisan fungsional. Lapisan basal menempel langsung pada miometrium dan hanya mengalami sedikit perubahan selama siklus haid. Lapisan fungsional mulai dari lapisan basal dan akhirnya menyelubungi seluruh lumen rongga uterus . Lapisan fungsional selanjutnya dapat dibedakan lebih lanjut menjadi dua komponen: lapisan kompak yang tipis dan terletak di permukaan, dan lapisan spongiosa yang terletak lebih dalam yang terutama menyusun uterus sekretorik atau yang telah berkembang penuh. Suplai darah endometrium berasal merupakan suatu jaringan pembuluh arteria dan vena yang sangat khusus. Arteri-arteri spiralis merupakan cabang-cabang arteri uterine dalam miometrium, yang akan berjalan menembus lapisan basal endometrium dan meluas ke dalam zona fungsional. Bagian proksimal dari arteri spiralis, yaitu vasa rekta menghantarkan darah untuk jaringan-jaringan lapisan basal dan tidak dipengaruhi oleh perubahan sekresi estrogen dan progesteron. Tidak demikian halnya dengan arteri spiralis yang mengalami regenerasi dan degenerasi siklik sepanjang siklus menstruasi sebagai respon terhadap perubahan hormonal.

Siklus endometrium dapat dibedakan menjadi tiga fase utama: fase proliferasi, sekresi, dan menstruasi. Siklus menstruasi mempunyai hipotesis berlangsung selama 28 hari, dan fase folikuler dan luteal kira-kira 14 hari lamanya.

Fase Proliferasi

Bila perdarahan menstruasi berhenti.maka akan tersisa suatu lapisan tipis jaringan endometrium basal. Jaringan yang terdiri dari sisa-sisa kelenjar dan stroma kemudian akan bertumbuh cepat. Sel-sel epitel dari kelenjar akan berproliferasi dan menutup permukaan stroma dengan suatu lapisan epitel toraks sederhana. Pada awal fase proliferasi, kelenjar-kelenjar umurrmya masih lurus, pendek dan sempit. Epitel kelenjar memperlihatkan peningkatan aktivitas mitotik. Epitel dan komponen-komponen stroma terus bertumbuh cepat sepanjang fase proliferasi. Dan pada akhir fase proliferasi ini, permukaan endometrium menjadi agak bergelombang. Kelenjar-kelenjar menjadi berkelok-kelok dan dilapisi oleh sel-sel toraks yang tinggi dengan inti basal. Pseudostratifikasi nuklei terlihat jelas. Stroma pada saat ini menjadi agak padat dengan banyak unsur-unsur mitotik.

Fase Sekresi

Selama fase sekresi terjadi perubahan-perubahan histologik yang berlangsung sangat cepat. Pada paruh pertama fase ini, tampilan epitel kelenjar paling berguna dalam menentukan “hari” endometrium, sementara menentukan “hari” secara akurat pada paruh kedua sangat bergantung pada sifat-sifat stroma. Pada hari ke-16 dari siklus (hari kedua pasca ovulasi), vakuola-vakuola kaya glikogen subnuklear menjadi nyata pada epitel kelenjar. Vakuola-vakuola akan mendesak nuklei sel-sel epitel ke posisi sentral di dalam sel. Menjelang hari ke-19 (hari kelima pasca ovulasi) hanya ada sedikit vakuola yang tertinggal dalam sel. Bahan-bahan sekresi asidofilik intraluminal kelenjar paling jelas terlihat pada hari ke-21. Edema stroma yang bervariasi pada fase proliferasi, juga menjadi nyata pada saat ini dan mencapai puncaknya pada hari ke-22. Menjelang hari ke-24, perubahan pseudodesidua atau pradesidua mulai terlihat pada stroma. Perubahan-perubahan ini mulanya paling jelas terlihat di sekitar arteria Spiralis dan akhirnya menyebar ke daerah-daerah stroma yang luas. Infiltrasi limfosit pada stroma meningkat nyata bersamaan dengan terjadinya perubahan-perubahan pseudodesidua, dan menjelang hari ke-26 sudah terlihat pula invasi PMN.

Jika implantasi blastokis berhasil, maka kadar hCG serum dan progesteron (seknder dari hCG) akan mulai meningkat 7-10 hari sesudah ovulasi (yaitu hari ke-21-24dari siklus menstruasi). Peningkatan kadar progesteron menimbulkan perubahan pada endometrium yang dikenal sebagai desidualisasi. Desidua kehamilan terutama terdiri dari sel-sel stroma eosinofilik yang sembab, yang memiliki tampilan mirip jalan setapak. Pada tahap awal kehamilan, sel-sel epitel kelenjar menjadi teregang dengan sitoplasma jenih dan dapat disertai nucleus yang membesar dan hiperkromatik, suatu gambaran yang dikenal sebagai fenomena Arias’Stella. Kelenjar-kelenjar selanjutnya akan mengalami atrofi bertahap dengan berlanjutnya kehamilan.

Fase Menstruasi

Bila tidak terjadi kehamilan, maka akan diamati perubahan-perubahan endometrium sekunder dari penurunan produksi hormon oleh korpus luteum pada hari ke-24. Lapisan fungsional dari stroma akan mulai menciut, dan kelenjar-kelenjar endometrium menjadi lebih berkelok-kelok dan tampak bergerigi. Konstriksi intermiten dari arteria spiralis menyebabkan stasis kapiler-kapiler lapisan fungsional, iskemia jaringan, dan ekstravasasi darah ke dalam stroma dan pembentukan hematom-hematom kecil. Akhirnya terjadi deskuamasi dan pengelupasan seluruh lapisan endometrium fungsional.

Di masa lalu biopsi endoraetrium telah banyak dipakai untuk menilai sekresi progesteron pada wanita dengan gangguan fungsi menstruasi dan infertilitas. Namun kini dengan semakin mudah dan dapat diandalkannya peneraan radioimun dalam mengukur kadar progesteron serum, maka kebutuhan akan biopsy endometrium menjadi terbatas; teknik ini kini terutama digunakan untuk menilai respon endometrium terhadap rangsang hormonal. Biopsi endometrium akan sangat informatif jika dilakukan beberapa hari sebelum menstruasi. Kendatipun biopsi yang dilakukan pada akhir fase luteal berpotensi mengganggu kehamilan bila telah terjadi konsepsi, namun risiko ini adalah minimal.

Lendir Serviks

Lendir serviks adalah suatu sekresi kompleks yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar endoserviks. Lendir ini terdiri dari 92-98% air dan sekitar 1% garam anorganik di mana NaCl merupakan unsur utama. Lendir juga mengandung gula sederhana, polisakarida, protein, dan glikoprotein. pH biasanya basa dan berkisar antara 6,5 hingga 9,0. Klinisi dapat segera menilai beberapa sifat fisik dari lender. Karena sifai-sifat ini dipengaruhi oleh kadar estrogen dan progesteron serum, maka seringkali mungkin untuk memperkirakan status hormonal pasien hanya dengan melakukan pemeriksaan lendir serviks. Estrogen merangsang produksi lendir yang jernih dan encer seperti air dalam jumlah banyak (hingga 700 mg/hari) yang dapat dengan mudah ditembus sperma. Akan tetapi progesteron, walaupun pada kadar estrogen plasma yang tinggi sekalipun, akan mengirangi sekresi lendir. Lendir menjadi sedikit, kental, dan selular selama fase luteal siklus menstruasi dan pada kehamilan. Sekitar 20-60 rng lendir diproduksi setiap harinya yaitu pada sebagian besar hari dalam siklus menstruasi.

Spinnbarkeit adalah sifat yang memungkinkan lendir serviks diregangkan atau diulur membentuk tali. Spinnbarkeit dapat diperkirakan dengan mengulur suatu sampel lendir serviks di antara dua gelas objek dan mengukur panjang maksimum dari tali yang terbentuk sebelum terputus. Pada pertengahan siklus, panjang spinnbarkeit biasanya melampaui 10 cm. Pola pakis atau arborisasi mengacu pada suatu pola mikroskopis yang khas yang dibentuk lendir serviks bila dikeringkan di atas gelas objek. Pola pakis ini terbentuk akibat kristalisasi garam-garam organik di sekitar materi-materi organik kecil dalam jumlah optimal dalam lendir serviks. Dengan meningkatnya kadar estradiol serum, komposisi lendir serviks berubah pula, sehingga lendir kering mulai memperlihatkan pola pakis pada pakis kedua dari fase folikular. Pola akis ini akan sangat menonjol pada interval praovulasi di mana kadar estradiol adalah maksimal dan sebelum terjadi sekresi progesteron yang ber makna, dan lendir menjadi encer seperti air, serta hanya mengandung sedikit sel. Dengan meningkatnya kadar progesteron setelah ovulasi, maka kualitas lendir juga berubah serta pola pakis menjadi hilang. Hilangnya pola pakis ini dapat mencerninkan suatu stimulasi kelenjar-kelenjar endoserviks yang tidak memadai oleh estrogen, ataupun hambatan sekresi akibat peningkatan sekresi progesteron. Pola pakis yang menetap sepanjang siklus menstruasi mengisyaratkan siklus anovulatorik ataupun sekresi progesteron yang tidak memadai.

Epitel Vagina

Mukosa vagina merupakan lapisan epitel berlapis gepeng yang tidak memiliki kelenjar-kelenjar. Sel-sel pada lapisan luar menjadi pipih selama tahun-tahun reproduktif dan dapat mengandung granula-granula keratohialin, namun pertandukan sejati tidak terjadi. Sel-sel epitel vaginal seperti halnya jaringan lain dan saluran reproduksi wanita, berespons terhadap perubahan kadar steroid-steroid seks ovarium. Estrogen merangsang proliferasi dan pematangan sel-sel epitel, menyebabkan mukosa vagina menebal dan kandungan glikogen epitel menjadi meningkat. Glikogen ini kemudian difermentasikan menjadi asam laktat oleh flora bakteria normal vagina, dan bertanggungjawab atas pH cairan vagina yang agak asam. Perubahan-perubahan histologik dan sitologik epitel vagina wanita selama siklus menstruasi normal nyaris tidak nyata jika dibandingkan dengan perubahan-perubahan pada siklus estrus binatang pengerat.

Ahli sitologi menggambarkan tiga tipe sel-sel epitel vagina yang lepas, superfisial, intermedia, dan basal, parabasal-yang sama sekali tidak mengacu pada lokasi sei-sel tersebut di lapisan epitel, tetapi pada derajat kematangan ataupun diferensiasi sel. Sel-sel yang terlepas yang didapat melalui pengerokan ringan pada bagian tengah dinding lateral vagina ini paling berguna dalam penilaian sitohormonal.

Sek-sel superfisial adalah sel-sel epitel matang, yang dipilih, biasanya poligonal dengan inti hiperkromatik, piknotik. Sel-sel ini berkembang sebagai respon terhadap rangsang kadar estrogen yang tinggi dan tidak diimbangi.

Sel-sel intermedia merupakan sel gepeng yang relatif matang dengan sitoplasma eosinofilik atau sianofilik dan suatu inti vesikular non-piknotik. Tampilan nukelus ini merupakan faktor yang penting alam membedakan sel-sel intermedia dari sel-sel superficial. Sel-sel intermedia akan dominan pada status endokrinologis di mana kadar progesteron tinggi, misalnya pada kehamilan atau pertengahan fase luteal dari siklus menstruasi.

 

 

 

 

Gambar 2.3 Bentuk pola ketika lendir serviks dipulas pada kaca objek, dibiarkan kering, dan diperiksa dibawah mikroskop. Progesteron membuat lendir lebih tebal dan lebih banyak sel. Pada pasien yang gagal ber-ovulasi (bawah), tidak terdapat progesteron untuk menghambat bentuk pakis yang diindukasi estrogen.(11)

 

Sel-sel basal-parabasal adalah sel-sel imatur bulat atau oval, kecil dan tebal dengan inti vesicular yang besar dan sitoplasma sianofilik. Sel-sel parabasal biasanya menunjukkan defisiensi estrogen dan merupakan tipe sel yang dominan pada masa-masa pra-pubertas dan post-menopause. (1)

Beberapa petunjuk yang menjelaskan rasio atau persentase dari sel-sel superfisial, intermedia, dan basal-parabasal adalah: (I) indeks kariopiknotik (KPI), rasio sel-sel superfisial terhadap sel intermedia: (2) indeks eosinofilik (El), rasio antara sel-sel eosinofilik terhadap sel-sel sianofilik matang; dan (3) indeks maturasi (MI), persentase sel-sel parabasal, intermedia, dan superfisial dalam urutan seperti int. Karena hanya MI yang sebagai suatu faktor dapat mencakup ketiga tipe sel, maka indeks ini memberikan informasi lebih dibanding kedua indeks lain. (1)

Secara umum, hanya ada dua pola sel-sel epitel vagina yang bersifat diagnostik dan secara klinis berguna. Jika epitel vagina telah dirangsang dengan estrogen, MI dapat berkisar antara (0/40/60) pada tengah siklus di mana kadar estrogen paling tinggi, hingga (0/70/30) pada akhir fase luteal, di mana efek progesteron paling menonjol. Temuan sel-sel parabasal dengan sedikit sel intermedia namun tanpa sel superfisial menunjukkan bahwa epitel vagina hanya mendapat sedikit atau tidak mendapat stimulasi estrogen. MI pada keadaan ini mungkin (100/0/0) atau (80/20/0). Apus vagina dapat digunakan untuk penilaian kualitatif produksi estrogen pada wanita dengan amenore.

This entry was posted in Reproduksi. Bookmark the permalink.

Comments are closed.