KANKER RAHIM

A.    DEFINISI
Kanker rahim (uterus) atau yang sebenarnya adalah kanker jaringan endometrium adalah kanker yang sering terjadi di endometrium, tempat dimana janin tumbuh, sering terjdi pada wanita usia 60-70 tahun.
Kanker endometrium adalah kanker yang terjadi pada organ endometrium atau pada dinding rahim. Endometrium adalah organ rahim yang berbentuk seperti buah pir sebagai tempat tertanam dan berkembangnya janin. kanker endometrium kadang-kadang disebut kanker rahim, tetapi ada sel-sel lain dalam rahim yang bisa menjadi kanker seperti otot atau sel miometrium. kanker endometrium sering terdeteksi pada tahap awal karena sering menghasilkan pendarahan vagina di antara periode menstruasi atau setelah menopause
Penyakit kanker rahim adalah pembunuh nomor satu yang kerap mengintai korbannya, kaum wanita. Umumnya, hampir semua jenis penyakit kanker rahim sulit terdeteksi pada stadium awal. Penyakit ini menyerang mulut rahim, saluran rahim, bagian dalam rahim, dan biasa juga di luar rahim atau kandungan. Penyakit ini baru disadari atau dirasakan oleh penderita setelah muncul gejalah-gejalah kanker atau tanda-tanda berupa benjolan yang relatif besar, yaitu 2-3 cm, terasa mengganjal, dan mulai teraba oleh tangan.

B.    ANATOMI FISIOLOGI UTERUS
Uterus, organ muscular berbentuk buah pir, mempunyai panjang 7,5 cm dan lebar 5 cm pada bagian atasnya. Dindingnya mempunyai tebal sekitar 1,25 cm. Ukuran dari organ ini beragam tergantung pada partus (jumlah kelahiran hidup) dan abnormalitas uterus, seperti fibroid, suatu jenis tumor yang dapat merusak uterus. Wanita nulipara ( wanita yang tidak menyelesaikan kehamilan sampai ke tahap janin hidup) biasanya mempunyai uterus lebih kecil dibanding wanita multipara (wanita yang sudah menyelesaikan dua atau lebih kehamilan sampai tahap janin hidup).
Uterus mempunyai dua bagian : serviks yang menonjol ke dalam vagina, dan bagian atas yang lebih besar yaitu fundus atau korpus, yang ditutupi secara posterior dan anterior (sebagian) oleh peritoneum. Uterus terletak di sebelah posterior kandung kemih dan dipertahankan posisinya dalam rongga pelvis oleh beberapa ligament. Ligamentum teres terbentang secara anterior dan lateral disepanjang cincin internal inguinal dan turun disepanjang kanalis inguinalis, tempat mereka bergabung dengan jaringan labia mayora. Ligamentum latum adalah lipatan perineum yang memanjang dari dinding pelvis lateral dan membungkus tuba falopi. Ligamentum uterosakral memanjang secara posterior sampai ke sakrum.
Bagian dalam fundus yang berbentuk segitiga menyempit ke dalam kanal kecil serviks yang mengecil pada setiap ujungnya, disebut sebagai os eksternal dan os internal. Bagian lateral uteru disebut koruna. Dari tempat ini oviduk atau tuba falopi (atau uterus) memanjang ke arah luar, luminanya diteruskan secara internal oleh rongga uterus.

C.    ETIOLOGI
Penyebabnya yang pasti tidak diketahui, tetapi tampaknya penyakit ini melibatkan peningkatan kadar estrogen. Salah satufungsi estrogen yang normal adalah merangsang pembentukan lapisan epitel pada rahim. Sejumlah besar estrogen yang disuntikan kepada hewan percobaan di laboratorium menyebabkan hiperplasia endometrium dan kanker.
Wanita yang menderita kanker rahim tampaknya memiliki faktor resiko tertentu (faktor resiko adalah sesuatu yang menyebabkan bertambahnya kemungkinan seseorang untuk menderita suatu penyakit). Wanita yang memiliki faktor resiko tidak selalu menderita kanker rahim, sebaliknya banyak penderita kanker rahim yang tidak memiliki faktor resiko. Kadang tidak dapat di jelaskan mengapa seorang wanita menderita kanker rahim sedangkan wanita yang lainnya tidak.
Penelitian telah menemukan beberapa faktor resiko pada kanker rahim :
a.    Usia
Kanker uterus terutama menyerang wanita berusia 50 tahun keatas.
b.    Nulipara
c.    Hiperplasia endometrium
d.    Terapi sulih hormon (TSH)
TSH digunakan untuk mengatasi gejala-gejala monopause, mencegah osteoporosis dan  mengurangi resiko penyakit jantung atau stroke. Wanita yang menkonsumsi estrogen tanpa progesteron memiliki resiko yang lebih tinggi. Pemakaian estrogen dosis tinggi dan jangka panjang tampaknya mempertinggi resiko ini.
e.    Wanita yang mengkonsumsi estrogen dan progesteron memiliki resiko yang lebih rendah karena progesteron melindungi rahim.
f.    Obesitas
Tubuh membuat sebagian estrogen di dalam jaringan lemak sehingga wanita yang gemuk memiliki kadar estrogen yang lebih tinggi. Tingginya kadar estrogen merupakan penyebab meningkatnya resiko kanker rahim pada wanita obesitas.
g.    Diabetes (kencing manis)
h.    Hipertensi
i.    Tamoksifen
Wanita yang mengkonsumsi tamoksifen untuk mencegah atau mengobati kanker payudara memiliki resiko yang lebih tinggi. Resiko ini tampaknya berhubungan dengan efek tamoksifon yang menyerupai estrogen terhadap rahim.
Keuntungan yang diperoleh dari tamoksifen lebih besar dari pada resiko terjadinya kanker lain, tetapi setiap wanita memberikan reaksi yang berlainan.
j.    Ras
Kanker rahim lebih sering di temukan pada wanita kulit putih.
k.    Kanker kolorektal
l.    Menarke (menstruasi pertama) sebelum usia 12 tahun
m.    Monopause setelah usia 52 tahun
n.    Tidak memiliki anak
o.    Kemandulan
p.    Penyakit ovarium polokista
q.    Polip endomatrium

D.    PATOFISIOLOGI
Carsinoma uterus dibagi ke dalam 3 kategori besar tumor epitel, tumor stroma, tumor sel benih kanker ovarium dapat bermetastasis dengan invasi langsung ke struktur. Struktur yang berdekatan pada abdomen dan panggul dan melalaui penyebaran benih tumor melalui cairan poritoneal ke rongga abdomen dan rongga panggul dapat terjadi dan cairan yang mengandung sel-sel ganas melalui saluran limfe menuju fleura dan akhirnya menyebabkan efusi pleura.
Kebanyakan kanker ovarium adalah dari tumor epitel kanker ovarium cenderung untuk tumbuh dan menyebar perlahan-lahan (tanpa tanda dan gejala) sampai akhirnya menekan organ-organ yang berbatasan atau distensi abdomen. Kanker dapat menginvasi permukaan bawah omentum, hati dan organ lain. Rute penyebaran melalui limfe, aliran darah dan peritoneal. Pada kanker ovari dapat terjadi distensi abdomen, sering berkemih, pleura efusion, mal nutrisi, nyeri karena tekanan yang disebabkan oleh pertumbuhan tumor dan dapat menyababkan obstruksi saluran urine, konstipasi, asites dengan sesak.

E.    MANIFESTASI KLINIS
a.    Perdarahan rahim yang abnormal
b.    Siklus menstruasi yang abnormal
c.    Perdarahan diantara 2 siklus menstruasi (pada wanita yang masih mengalami menstruasi)
d.     Perdarahan vagina atau spotting pada wanita pasca monopause
e.    Perdarahan yang sangat lama, berat dan sering (pada wanita yang berusia diatas 40 tahun)
f.    Nyeri perut bagian bawah atau kram panggul
g.    Keluar cairan putih yang encer atau jernih (pada wanita pasca monopause)
h.    Nyeri atau kesulitan dalam berkemih
i.    Nyeri ketika melakukan hubungan seksual.

F.     PEMERIKSAAN DIAGNOSTIC
a.    Pap smear
Pap smear dapat mendeteksi sampai 90% kasus kanker serviks secara akurat dan dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Akibatnya angka kematian akibat kanker serviks menurun sampai 50%. Setiap wanita yang telah aktif secara seksual atau usianya telah mencapai 18 tahun, sebaiknya menjalani pap smear secara teratur yaitu 1 kali/tahu. Jika selama 3 kali berturut-turut  menunjukan hasil yang normal, pap smear bisa dilakukan 1 kali/2-3tahun.
Hasil pemeriksaan pap smear menunjukan stadium dari kanker rahim :
1.    Normal
2.    Displasia ringan (perubahan dini yang belum bersifat ganas)
3.    Displasia berat (perubahan lanjut yang belum bersifat ganas)
4.    Karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar)
5.    Kanker invasif (kanker telah menyebar ke lapisan serviks (rahim) yang lebih dalam atau ke organ tubuh lainnya).

b.    Biopsi
Biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak satu pertumbuhan atau luka pada serviks, atau jika pap smear menunjukan suatu abnomalitas atau kanker.
c.    Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar)
d.    Tes schiller
Serviks diolesi dengan larutan yodium, sel yang sehat warnanya menjadi putih atau kuning.
e.    Rontgen
Untuk menentukan adanya masalah paru.
f.    Pembedahan/biopsi
Untuk mengetahui secara pasti jenis tumor.
g.    Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan HCT untuk pengkajian adanya komplikasi perdarahan, anemia atau infeksi.

G.    PENATALAKSANAAN MEDIS
Pemilihan pengobatan tergantung kepada ukuran tumor, stadium, pengaruh hormon terhadap pertumbuhan tumor dan kecepatan pertumbuhan tumor serta usia dan keadaan umum penderita.
Metode pengobatan :
a.    Pembedahan
Kebanyakan penderita akan menjalani histerektomi (pengangkatan rahim). Kedua tuba fallopi dan ovarium juga diangkat (salpingo-ooforektomi bilateral) karena sel-sel tumor bisa menyebar ke ovarium dan sel-sel kanker dorman (tidak aktif) yang mungkin tertinggal kemungkinan akan terangsang oleh estrogen yang di hasilkan oleh ovarium. Jika ditemukan sel-sel kanker di dalam kelenjar getah bening di sekitar tumor, maka kelenjar getah bening tersebut juga diangkat. Jika sel kanker telah ditemukan di dalam kelenjar getah bening, maka kemungkinan kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Jika sel kanker belum menyebar ke luar endometrium (lapisan rahim), maka penderita tidak perlu menjalani pengobatan lainnya.

b.    Terapi penyinaran (radiasi)
Digunakan sinar radiasi tinggi untuk membunuh sel-sel kanker.
Terapi penyinaran merupakan terapi lokal, hanya menyerang sel-sel kanker di daerah yang disinari. Pada stadium I, II, atau III dilakukan terapi penyinaran dan pembedahan. Penyinaran bisa dilakukan sebelum pembedahan (untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa).

Ada 2 jenis terapi penyinaran yang digunakan untuk mengobati kanker rahim :
1.    Radiasi eksternal
Digunakan sebuah mesin radiasi yang besar untuk mengarahkan sinar ke daerah tumor. Penyinaran biasa di lakukan sebanyak 5 kali/minggu selama beberapaminggu dan penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit. Pada radiasi eksternal tidak ada zat radioaktif yang dimasukkan ke dalam tubuh.

2.    Radiasi internal
Digunakan sebuah selang kecil yang mengandung zat radioaktif, yang dimasukkan melalui vagina dan dibiarkan selamabeberapa hari, selama menjalani radiasi internal, penderita dirawat di rumah sakit.

c.    Kemoterapi
Pada terapi hormonal digunakan zat yang mampu mencegah sampainya hormon ke sel kanker dan mencegah pemakaian hormon oleh sel kanker. Hormon bisa menempel pada reseptor hormon dan menyebabkan perubahan di dalam jaringan rahim. Sebelum dilakukan terapi hormon, penderita menjalani tes reseptor hormon. Jika jaringan memiliki reseptor, maka kemungkinan besar penderita akan memberikan respon terhadap terapi hormonal.
Terapi hormonal merupakan terapi sistemik karena bisa mempengaruh sel-sel di seluruh tubuh. Pada terapi hormonal biasanya digunakan pil progesteron, terapi hormonal dilakukan pada :
1.    Penderita kanker rahim yang tidak mungkin menjalani pembedahan ataupun terapi penyinaran.
2.    Penderita yang kankernya telah menyebar ke paru-paru atau organ tubuh lainnya.
3.    Penderita yang kanker rahimnya kembali kambuh. Jika kanker telah menyebar atau tidak memberikan respon terhadap terapi hormonal, maka diberikan obat kemoterapi lain, yaitu siklofosfamid, doksorubisin, dan sisplastin.

H.    KOMPLIKASI
a.    Anemia disebabkan oleh sifat fagosit sel tumor atau adanya perdarahan.
b.    Obstruksi khusus di sebabkan pembesaran sel-sel tumor yang dapat menekan usus.
c.    Depresi sum-sum tulang disebabkan faktor penghasil sel darah merah dari sum-sum tulang sebagai sistem imun. Sel darah merah berusaha untuk menghancurkan sel-sel tumor sehingga kerja sel-sel tumor optimal.
d.    Perdarahan disebabkan pembesaran tumor pada ovarium yang dapat menyebabkan ruptur.

This entry was posted in Reproduksi. Bookmark the permalink.

Comments are closed.