CEPHALHEMATOMA

A.         PENGERTIAN 
a.         Perdarahan sub periosteal akibat ruptur pembuluh darah antara tengkorak dan periosteum
b.         Perdarahan superfisial akibat kerusakan jaringan periosteum karena tekanan jalan lahir dan tidak melampaui batas garis tengah
c.         Pembengkakan pada kepala karena adanya penumpukan darah yang disebabkan perdarahan sub periosteum Faktor Predisposisi
d.        Tekanan jalan lahir yang terlalu lama pada kepala saat persalinan
e.         Moulage terlalu keras
f.          Partus dengan tindakan seperti forcep, vacum ekstraksi
          Cephal hematoma adalah perdarahan sub periosteal akibat kerusakan jaringan poriestum karena tarikan atau tekanan jalan lahir. Dan tidak pernah melampaui batas sutura garis tengah. Pemeriksaan x-ray tengkorak dilakukan, bila dicurigai ada nya faktur (mendekati hampir 5% dari seluruh cephalhematoma). Tulang tengkorak yang sering terkena adalah tulang temporal atau parietal ditemukan pada 0,5-2 % dari kelahiran hidup.
          Cephal hematoma adalah pembengkakan pada daerah kepala yang disebabkan karena adanya penumpukan darah akibat pendarahan pada subperiostinum. Kelainan ini agak lama menghilang (1-3 bulan).Pada gangguan yang luas dapat menimbulkan anemia dan hiperbilirubinemia.Perlu pemantauan hemoglobin, hematokrik, dan bilirubin.Aspirasi darah dengan jarum tidak perlu di lakukan.
B.        ETIOLOGI
1.    Persalinan lama
Persalinan yang lama dan sukar, dapat menyebab kan adanya tekanan tulang pelvis ibu terhadap tulang kepala bayi, yang menyebabkan robeknya pembuluh darah.
2.    Tarikan vakum atau cunam
Persalinan yang dibantu dengan vacum atau cunam yang kuat dapat menyebabakan penumpukan darah akibat robeknya pembuluh darah yang melintasi tulang kepala ke jaringan periosteum.
3.    Kelahiran sungsang yang mengalami kesukaran melahirkan kepala bayi.
C.      KLASIFIKASI
Menurut letak jaringan yang terkena ada 2 jenis yaitu :
 1.)  Subgaleal
Galea merupakan lapiasan aponeurotik yang melekat secara longgar pada sisi sebelah dalan periosteum. Pembuluh-pembuluh darah vena di daerah ini dapat tercabik sehingga mengakibatkan hematoma yang berisi sampai sebanyak 250 ml darah. Terjadi anemia dan bisa menjadi shock. Hematoma tidak terbatas pada suatu daerah tertentu.
Penyebabnya adalah perdarahan yang letaknya antara aponeurosis epikranial dan periosteum. Dapat terjadi setelah tindakan ekstraksi vakum. Jarang terjadi karena komplikasi tindakan mengambil darah janin untuk pemeriksaan selama persalinan, risiko terjadinya terutama pada bayi dengan gangguan hemostasis darah.
Sedangkan untuk kadang-kadang  sukar didiagnosis, karena terdapat edema menyeluruh pada kulit kepala. Perdarahan biasanya lebih berat dibandingkan dengan perdarahan subperiosteal, bahaya ikterus lebih besar.
2.)  Subperiosteal
Karena periosteum melekat pada tulang tengkorak di garis-garis sutura, maka hematoma terbatas pada daerah yang dibatasi oleh sutura-sutura tersebut. Jumlah darah pada tipe subperiosteal ini lebih sedikit dibandingkan pada tipe subgaleal, fraktur tengkorak bisa menyertai. Pinggirnya biasanya mengalami klasifikasi. Bagian tengah tetap lunak dan sedikit darah akan diserap oleh tubuh. Mirip fraktur depresi pada tengkorak. Kadang-kadang menyebabkan ikterus neonatorum.
D.        PATOFISIOLOGI
Kadang-kadang, cephal hematom terjadi ketika pembuluh darah pecah selama persalinan atau kelahiran yang menyebabkan perdarahan ke dalam daerah antara tulang dan periosteum. Cedera ini terjadi paling sering pada wanita primipara dan sering berhubungan dengan persalinan dengan forsep dan ekstraksi vacum. Tidak seperti kapu suksedaneum, cephal hematoma berbatas tegas dan tidak melebar sampai batas tulang. Cephal hematom dapat melibatkan salah satu atau kedua tulang parietal. Tulang oksipetal lebih jarang terlibat, dan tulang frontal sangat jarang terkena. Pembengkakan biasanya minimal atau tidak ada saat kelahiran dan bertambah ukuranya pada hari kedua atau ketiga. Kehilangan darah biasanya tidak bermakna
Cepal hematoma tidak menyebabkan daya ingatnya menurun.
Cephal hematoma dapat terjadi karena 2 hal yaitu:
a.     Pada partus lama (kala I lama, kala II lama), kelahiran janin dibantu dengan menggunakan vacum ekstraksi atau forseps yang sangat sulit. Sehingga moulage berlebihan dan menyebabkan trauma kepala dan selaput tengkorak rupture. Sehingga menyebabkan pendarahan sub periosteum dan terjadi penumpukan darah sehingga terjadi Cephal Hematoma.
b.    Pada kelahiran spontan (kepala bayi besar) terjadi penekanan pada tulang panggul ibu. Sehingga moulage terlalu keras atau berlebihan dan menyebabkan trauma kepala dan selaput tengkorak rupture. Sehingga menyebabkan pendarahan sub periosteum dan terjadi penumpukan darah sehingga terjadi Cephal Hematoma.
Karena adanya tekanan yang berlebihan, maka akan menyerap dan terabsorbsi keluar sehingga oudema.
Cephal hematoma terjadi akibat robeknya pembuluh darah yang melintasi tulang kepala ke jaringan poriosteum.Robeknya pembuluh darah ini dapat terjadi pada persalinan lama.Akibat pembuluh darah ini timbul timbunan darah di daerah sub periosteal yang dari luar terlihat benjolan.
          Bagian kepala yang hematoma bisanya berwarna merah akibat adanya penumpukan daerah yang perdarahan sub periosteum.
  Tanda-tanda dan gejala :
  Berikut ini adalah tanda-tanda dan gejala Cephal hematoma:
1. Adanya fluktuasi
2. Adanya benjolan, biasanya baru tampak jelas setelah 2 jam setelah bayi lahir .
3. Adanya chepal hematoma timbul di daerah tulang parietal.Berupa benjolan timbunan kalsium dan sisa jaringan fibrosa yang masih teraba. Sebagian benjolan keras sampai umur 1-2 tahun.
E.        TANDA DAN GEJALA
Gejala dan tanda yang sering muncul yaitu:
1.      Adanya fluktuasi
2.      Adanya benjolan, biasanya baru tampak jelas setelah 2 jam setelah bayi lahir
3.      Adanya chepal hematoma timbul di daerah tulang parietal, Berupa benjolan timbunan kalsium dan sisa jaringan fibrosa yang masih teraba. Sebagian benjolan keras sampai umur 1-2 tahun.
4.      Kepala tampak bengkak dan berwarna merah  hal ini karena penumpukan darah pada daerah sub periostium. .
5.      Tampak benjolan dengan batas yang tegas, tanda peradangan, dan tidak melampaui tulang tengkorak
6.      Pada perabaan terasa mula – mula keras kemudian menjadi lunak.
7.      Benjolan tampak jelas lebih kurang 6 – 8 jam setelah lahir
8.      Benjolan membesar pada hari kedua atau ketiga
9.      Benjolan akan menghilang dalam beberapa minggu.
Tanda dan Gejala lainnya, diantaranya:
1.    Baru tampak 6-8 jam setelah lahir, besar, hilang 16-22 jam atau beberapa minggu kemudian.
2.    Lunak, tetapi tidak leyok pada tekanan dan berfluktuasi.
3.    Pembengkakan terbatas.
4.   Tidak melewati sutura.
5.   Tempatnya tetap.
6.       Karena perdaraahan subperiosteum.
F.         KOMPLIKASI
1.      Ikterus
2.       Anemia
3.      Infeksi
4.      Kalasifikasi mungkin bertahan selama > 1 tahun
Gejala yang mungkin terjadi yaitu anemia dan hiperbilirubinemia. Kadang-kadang disertai dengan fraktur tulang tengkorak dibawah nya atau perdarahan intra cranial.
G.     PEMERIKSAAN DIAGNOSIS
Pemeriksaan X-Ray tengkorak dilakukan bila dicurigai adanya fraktur (mendekati hampir 5% dari seluruh cephal hematom). Dan pemeriksaan darah lengkap untuk menilai kadar bilirubin, hematokrit, faktor pembekuan dan hemoglobin.
H.         PENATALAKSANAAN
Tidak diperlukan penanganan untuk cephal hematom tanpa komplikasi. kebanyakan  lesi diabsorbsi dalam 2 minggu sampai 3 bulan. Lesi yang menyebabkan kehilangan darah hebat ke daerah tersebut atau yang melibatkan fraktur tulang di bawahnya perlu evaluasi  lebih lanjut. Hiperbilirubinemia dapat tejadi selama resolusi hematoma ini. Infeksi lokal dapat terjadi dan harus dicurigai bila terjadi pembengkakan mendadak yang bertambah besar.
Cephal hematoma umumnya tidak memerlukan perawatan khusus. Biasanya akan mengalami resolusi khusus sendiri dalam 2-8 minggu tergantung dari besar kecilnya benjolan. Namun apabila dicurigai adanya fraktur, kelainan ini akan agak lama menghilang (1-3 bulan) dibutuhkan penatalaksanaan khusus antara lain :
1.      Menjaga kebersihan luka
2.      Tidak boleh melakukan massase luka/benjolan Cephal hematoma
3.      Pemberian vitamin K
Bayi dengan Cephal hematoma tidak boleh langsung disusui oleh ibunya karena pergerakan dapat mengganggu pembuluh darah yang mulai pulih.
Untuk melakukan penanganan pada kasus cephal hematoma sebagai berikut:
1.             Hampir sama dengan caput succedaneum hanya lebih hati-hati jangan sering diangkat dari tempat tidur.
2.             Cairan tersebut akan hilang terabsorbsi dengan sendirinya dalam satu minggu. Terabsosbsinya menjadi lama apalagi terjadi jaringan fibroblast.
3.             Tidak di aspirasi karena dikhawatirkan akan terjadi infeksi bila kulit ditusuk jarum sehingga terjadi trauma akibat peradangan benda asing.
4.             Setelah hematoma lenyap, terjadi hemolisis sel darah merah.
5.             Stilumus secara pelan untuk merangsang pembuluh limfe dibawah kulit.
6.             Hari pertama kopres dingin
7.             Hari kedua sampai keempat kompres hangat.
8.             Hiperbilirubinemia dapat timbul setelah bayi dirumah.
9.             Konseling orang tua untuk awasi timbulnya kemungkinan ikterik.
10.         Diminta cek RS, pada minggu keempat.
Pada neonatus dengan sefalhematoma tidak diperlukan pengobatan, namun perlu dilakukan fototerapiuntuk mengatasi hiperbilirubinemia.
1. Tidak perlu tindakan khusus.
2. Benjolan akan hilang sendiri dalam beberapa minggu atau beberapa bulan.
3. Observasi terhadap bilirubinemia dan trombositopenia.
4. Dapat diberi vitamin K untuk mengurangi perdarahan.
5. Pemeriksaan x-ray tengkorak, bila dicurigai adanya fraktur (mendekati hampir 5% dari seluruhcephalhematoma)
6. Pemantauan bilirubinia, hematokrit, dan hemoglobin
7. Aspirasi darah dengan jarum suntik tidak diperlukan
This entry was posted in Tumbuh Kembang, Pediatrik dan Perinatologi. Bookmark the permalink.

Comments are closed.