NEURITIS OPTIK

Neuritis optik terjadi akibat saraf optik yang merupakan yang membawa impuls penglihatan ke otak mengalami peradangan serta sarung mielin yang membungkus saraf tersebut mengalami kerusakan (proses ini disebut juga demielinisasi). Terjadinya sangat khas pada salah satu mata (70%) yang menyebabkan gangguan penglihatan yang cepat dan progresif tetapi bersifat sementara. Sekitar 30% penderita terjadi pada kedua mata. Neuritis optik cenderung menyerang dewasa muda dengan usia rata-rata 30-an. Tujuh puluh lima persen penderita merupakan wanita.
Kerusakkan saraf terjadi pada bagian saraf optik yang letaknya di belakang bola mata dan disebut juga neuritis retrobulbar serta sering dikaitkan dengan penyakit sklerosis multipel. Peradangan saraf optik dan edema (pembengkakan) terjadi akibat tekanan intrakranial pada tempat dimana saraf masuk ke dalam bola mata. Peradangan di tempat tersebut disebut papilitis.

Penglihatan dapat saja normal atau berkurang, tergantung pada jumlah saraf yang mengalami peradangan

Neuritis optik terdiri atas tiga jenis, yaitu:

1.         Retrobulbar neuritis : menunjuk kepada lesi saraf yang akut dan tidak ditemukan adanya gambaran fundus yang abnormal.

2.         Papilitis : mengarah kepada lesi anterior diamana diskus menjadi membengkak dan hiperemis.

3.         Neurorenitinitis : memiliki konotasi yang sama dengan papilitis tetapi ditujukan kepada suatu proses yang lebih lanjut menuju daerah dekat retina dan uvea.

 

Epidemiologi

Insiden dan prevalensi dari optic neuritis di amerika serikat adalah 5 per 100.000 penduduk. Pada ras kaukasian, wanita dan orang yang hidup di dataran tinggi lebih banyak terkena penyakit ini. Pada umumnya terjadi pada usia antara 15-49 tahun (usia rata-rata 30-35 tahun).  Wanita lebih umum terkena daripada pria. Berdasarkan data The Optic Neuritis Treatment Trial (ONTT) 77% adalah wanita, 85% kulit putih dan usia rata-rata 32 ± 7 tahun. Sebagian besar kasus patogenesisnya disebabkan inflamasi demielinisasi dengan atau tanpa sklerosis multipel. Pada sebagian besar kasus neuritis optikus monosimptomatik merupakan manifestasi awal sklerosis multipel

Etiologi

Optik Neuritis (ON) mungkin berhubungan dengan demyelinisasi (disertai dengan Multipel Sclerosis lebih dari 50%), infeksi, parainfeksi atau autoimmune disease. Pada orang dewasa, demyelinisasi adalah penyebab yang tersering dimana penyebab demyelinisasi sendiri tidak diketahui. ON yang disebabkan infeksi sangat jarang terjadi, meskipun begitu yang paling sering menyebabkan ON adalah virus herpes, Cytomegalovirus, lyme disease, TB dan fungi. Para infeksi yang dapat menyebabkan ON adalah sinus disease, vaksinasi dan enchepalitis. SLE, sjogren syndrome, ankylosing spondylitis dan sarcoidosis telah dilaporkan sebagai penyakit autoimun yang juga dapat menyebabkan ON.

1. Inflamasi lokal
a. Uveitis dan retinitis
b. Oftalmia simpatika
c. Meningitis
d. Penyakit sinus dan infeksi orbita
2. Inflamasi general2
a. Infeksi syaraf pusat
Multipel sklerosis
Diberbagai kelompok populasi diseluruh dunia, neuritis retrobulbar berkaitan dengan sklerosis multipel pada 13-85% pasien3. Data dari “Mayo clinic” pada tahun 1933 didapatkan dari 255 kasus sebanyak 155 disebabkan oleh sklerosis multipel2.
Acute disseminated encephalomyelitis
Neuromyelitis optic (Devic disease)
Merupakan suatu proses demielinisasi yang mengenai nervus optikus. Penyakit ini sering salah didiagnosa dengan sklerosis multipel tetapi dapat dibedakan berdasarkan derajat keparahan, lokasinya (mengenai nervus optikus, medulla spinalis) dan analisis cairan serebro spinal (polymorphonuclear pleocytosis dan ketiadaan oligoclonal banding)7.
Encephalitis periaxial diffusa of Schilder
Herpes zoster
Encephalitis epidemic, poliomyelitis, inokulasi rabies
b. Syphilis
c. Tuberkulosis
3. Leber’s disease
Merupakan suatu penyakit herediter pada laki-laki muda, manifestasinya sebagai perubahan mendadak pada penglihatan sentral, pertama kali mengenai satu mata dan selanjutnya kedua mata. Karakteristiknya terdapat skotoma sentral dengan dence central nucleus. Pada beberapa kasus inflamasi mengenai nervus di dalam bola mata sehingga menyebabkan papilitis ringan. Pada kasus yang lain mengenai nervus di belakang mata2.
4. Toksin endogen
a. Penyakit infeksi akut, seperti influenza, malaria, measles, mumps, pneumonia
b. Fokus septik pada gigi, tonsil, infeksi fokal
c. Penyakit metabolik: diabetes, anemia, kehamilan, avitaminosis
5. Intoksikasi racun eksogen seperti tobacco,etil alcohol, metil alkohol.

Faktor resiko neuritis optikus termasuk:
1.Usia
Neuritis optikus sering mengenai dewasa muda usia 20 sampai 40 tahun; usia rata-rata terkena sekitar 30 tahun. Usia lebih tua atau anak-anak dapat terkena juga tetapi frekuensinya lebih sedikit
2.Jenis kelamin
Wanita lebih mudah terkena neuritis optikus dua kali daripada laki-laki.
3.Ras
Neuritis optikus lebih sering terjadi pada orang kulit putih daripada ras yang lain

Gejala-Gejala

Gejala-gejala neuritis optik adalah jika ditemukan satu atau lebih gejala berikut ini:

  • penglihatan kabur
  • bintik/bercak buta, terutama pertengahan lapang pandang
  • nyeri saat pergerakkan bola mata
  • sakit kepala
  • buta warna mendadak
  • gangguan penglihatan pada malam hari
  • gangguan ketajaman penglihatan

Neuritis optik sering diakibatkan oleh penyakit sklerosis multipel. Penyebab lainnya adalah infeksi virus, jamur, ensefalomielitis, penyakit-penyakit otoimun atau tumor yang menekan saraf penglihatan atau penyakit-penyakit pembuluh darah (misalnya radang arteri temporal). Beberapa bahan kimia beracun seperti metanol dan timah hitam dapat menyebabkan kerusakkan saraf optik. Kerusakn saraf optik dapat juga dikarenakan penyalahgunaan alkohol dan rokok. Neuritis optik dapat juga disebabkan karena gangguan sistem kekebalan tubuh.

 

Patofisiologi

Hingga saat ini reaksi autoimun merupakan teori yang masih dipegang dalam patofisiologi neuritis optik. Dalam reaksi ini myelin nervus optikus mengalami destruksi sehingga akson hanya dapat memberikan impuls listrik dalam jumlah yang sangat kecil. Bila keadaan ini terus menerus terjadi, maka sel ganglion retina aka mengalami kerusakan ireversibel. Setelah destruksi myelin berlangsung, axon dari sel ganglion retina akan mulai berdegenerasi. Monosit melokalisir daerah tersebut diikuti oleh makrofag untuk memfagosit myelin. Antrosit kemudian berproliferasi dengan diikuti deposisi jaringan sel glia. Daerah gliotik (sklerotik) dapat berambah jumlahnya dan meluas ke otak dan medulla spinalis (multipel sklerosis).

Inflamasi pada endotel pembuluh darah retina dapat mendahului demielinisasi dan terkadang terlihat sebagai retinal vein sheathing.  Kehilangan mielin dapat melebihi hilangnya akson. Dipercaya bahwa demielinisasi yang terjadi pada Neuritis optikus diperantarai oleh imun, tetapi mekanisme spesifik dan antigen targetnya belum diketahui. Aktivasi sistemik sel T diidentifikasi pada awal gejala dan mendahului perubahan yang terjadi didalam cairan serebrospinal. Perubahan sistemik kembali menjadi normal mendahului perubahan sentral (dalam 2-4 minggu). Aktivasi sel T menyebabkan pelepasan sitokin dan agen-agen inflamasi yang lain. Aktivasi sel B melawan protein dasar mielin tidak terlihat di darah perifer namun dapat terlihat di cairan serebrospinal pasien dengan Neuritis optikus. Neuritis optikus juga berkaitan dengan kerentanan genetik, sama seperti MS. Terdapat ekspresi tipe HLA tertentu diantara pasien Neuritis optikus.

Nervus optikus mengandung serabut-serabut syaraf yang mengantarkan informasi visual dari sel-sel nervus retina ke dalam sel-sel nervus di otak. Retina mengandung sel fotoreseptor, merupakan suatu sel yang diaktivasi oleh cahaya dan menghubungkan ke sel-sel retina lain disebut sel ganglion. Kemudian mengirimkan sinyal proyeksi yang disebut akson ke dalam otak. Melalui rute ini, nervus optikus mengirimkan impuls visual ke otak. Sehingga ketika nervus tersebut inflamasi, sinyal visual yang dihantarkan ke otak menjadi terganggu dan pandangan menjadi lemah


Diagnosis

Riwayat Pasien dengan sklerosis multipel dapat mempunyai riwayat neuritis optik yang berulang, dapat ditanyakan apakah pernah terjadi sebelumnya keluhan yang sama.

Pada anamnesa akan didapatkan gejala subjektif:

1.      Penglihatan turun mendadak dalam beberapa jam sampai hari yang mengenai satu atau kedua mata. Kurang lebih sepertiga pasien memiliki visus lebih baik dari 20/40 pada serangan pertama, sepertiga lagi juga dapat memiliki visus lebih buruk dari 20/200.

2.      Penglihatan warna terganggu.

3.      Rasa sakit bila mata bergerak dan ditekan, dapat terjadi sebelum atau bersamaan dengan berkurangnya tajam penglihatan. Bola mata terasa berat di bagian belakang bila digerakkan.

4.      Adanya defek lapang pandang.

5.      Pasien mengeluh penglihatan menurun setelah olahraga atau suhu tubuh naik (tanda Uhthoff).

6.      Beberapa pasien mengeluh objek yang bergerak lurus terlihat mempunyai lintasan melengkung (Pulfrich phenomenon), kemungkinan dikarenakan konduksi yang asimetris antara nervus optikus.

Dokter mata akan memeriksa mata penderita dan menentukan diagnosis neuritis optik. Pemeriksaan mata lengkap termasuk pemeriksaan ketajaman penglihatan, pemeriksaan buta warna serta pemeriksaan retina dan diskus optik dengan menggunakan oftalmoskop. Tanda-tanda klinis seperti gangguan reaksi pupil jelas terlihat selama pemeriksaan mata tetapi pada beberapa keadaan mata terlihat normal. Riwayat medis penderita dapat digunakan untuk mengetahui apakah pernah terpapar/kontak dengan bahan-bahan beracun seperti timah hitam yang dapat menyebabkan neuritis optik.

Pemeriksaan lebih lanjut dengan menggunakan MRI (magnetic resonance imaging) diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Dengan MRI dapat dibuktikan tanda-tanda sklerosis multipel.

Riwayat dan pemeriksaan merupakan dasar dari diagnosis optic neuritis.  Pasien dewasa dengan ON sering ditandai dengan penurunan penglihatan yang unilateral. Bilateral juga dapat terjadi, tetapi ini lebih sering terjadi pada anak-anak atau populasi Asia dan disebut sebagai ‘optospinal MS’. Persepsi penglihatan terhadap warna biasanya juga terpengaruh, dengan warna-warna seperti efek washed out sebelum penurunan penglihatan terjadi. Nyeri orbital di dalam atau di sekitar mata.

Manifestasi klinis biasanya ditandai dengan nyeri subakut unilateral disertai kehilangan penglihatan yang progresif selama beberapa hari sampai 2 minggu. Kehilangan penglihatan mulai dari kabur hingga tidak respon terhadap cahaya. Kilatan cahaya dapat terlihat saat penderita menggerakkan bola matanya. Pada penderita juga terjadi penurunan penglihatan setelah berolahraga atau saat suhu tubuh meningkat (uhthoff phenomenon).

Tanda dari terjadinya optic neuritis ialah abnormallitas penglihatan terhadap warna, menurunnya kontras dari penglihatan, defek lapangan pandang dan reflek pupil aferen defek positif.

a.       Tajam penglihatan

Dalam praktek umum, tanda-tanda disfungsi saraf optik dapat diperoleh dari pengujian visual acuity menggunakan grafik Snellen untuk menentukan derajat kehilangan penglihatan. ketajaman visual pada penderita Optic neuritis dapat berkisar mulai dari 6/6 hingga no light perception. Hilangnya visus dapat : ringan (≥ 20 / 30), sedang (≥ 20 / 60), berat (≤ 20 / 70)

Pemeriksaan penglihatan warna sangat penting dan ini dapat dideteksi dengan menggunakan ishihara test. Pola yang paling umum didapatkan pada penderita ON adalah redgreen confusion. Defek relatif aferen pupil merupakan tanda klinis dari ON dan sangat penting bahwa tes ini dilakukan dengan benar. Perlakuan percobaan neuritis optik (ONTT) menunjukkan bahwa sekitar 48% pasien dengan ON pada satu mata memiliki optik neuropati pada mata kontralateralnya. Pada anak-anak, ON cukup sering bilateral dan berulang. Penurunan subjektif pada kontras penglihatan adalah indikator lain dari disfungsi nervus optikus.

Uhthoff’s phenomenon merupakan hilangnya visus sementara waktu yang terjadi secara intermiten yang terjadi di Multiple sclerosis dan optic neuropati. Syndrome ini juga dapat dicetuskan oleh stress emosional, perubahan cuaca, menstruasi, cahaya, makanan, merokok. Patofisiologi dari Unthoff’s syndrome belum diketahui, walaupun adanya hambatan hantaran hingga peningkatan pada suhu tubuh atau perubahan pada kadar elektrolit darah dapat dipercaya memegang peranan.

b. Gangguan lapangan pandang

Depresi secara keseluruhan dari lapangan pandang adalah tipe defek visual yang sering ditemukan. Banyak tipe kehilangan lapangan pandang dilaporkan, termasuk skotoma centrocecal, setelah 7 bulan, 51 % kasus memiliki lapangan pandang yang normal.

c. Ukuran pupil

Ukuran pupil sama dengan optik neuritis yang unilateral walaupun mata tersebut buta. Umumnya, bagaimanapun defek/kerusakan afferent pupil di karakteristikan dengan susahnya atau hilangnya konstriksi pada penyinaran langsung, hal ini didapati pada mata yang ipsilateral. Tes dengan lampu senter yang berayun adalah metode sederhana untuk mendeteksi hal ini.

d. Pemeriksaan Ophtalmoskopi

1.         Perubahan awal

Papilitis dapat ditemukan dalam 38 % kasus. Diskus optikus normal dalam 44 % kasus. Pucatnya bagian temporal menunjukkan adanya lesi optik neuritis yang berat pada mata yang sama, hal ini dijumpai pada 18 % dari pasien yang menjalani pemeriksaan. Papilitis tahap awal di karakteristikkan dengan adanya batas diskus yang mengabur dan sedikit hiperemis. Edema dari diskus optikus (1:3) dengan atau tanpa peripapillary flame-shaped hemorrhages (papillitis lebih sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda) atau normasl diskus (2:3) retrobulbar ON lebih sering pada dewasa. (willeye)

2. Papilitis yang mencapai perkembangan yang lengkap

Adanya papiledema pada opthalmoskopi tidak memungkinkan untuk menyatakan hal ini, ditandai dengan adanya pembengkakan, hilangnya fisiologis cup, hiperemis dan perdarahan yang terpisah. Pembungkus vena biasanya jarang terlihat. Pemeriksaan dengan split lamp untuk melihat adanya sel pada vitreous adalah hal yang sangat penting.

3. Perubahan lanjut

Pada retrobulbar optik neuritis, diskus yang normal dapat dijumpai selama 4-6 minggu, saat dimana pucat dijumpai. Papilitis yang berlanjut kadang-kadangdidapati gambaran optik atropi sekunder. Pada keadaan ini batas diskus dapat mengabur, mungkin terdapat jaringan glial pada diskus, dan pucatnya diskus bagian stadium akhir optik neuritis. Pada stadium ini, serabut saraf atropi dapat diamati pada retina dengan berangkat lampu hijau merah.

e. Pemeriksaan Segmen Anterior

Pada neuritis optik akut sebanyak dua pertiga dari kasus merupakan bentuk retrobulbar, maka papil tampak normal, dengan berjalannya waktu, nervus optikus dapat menjadi pucat akibat atrofi. Pada kasus neuritis optik bentuk papilitis akan tampak edema diskus yang hiperemis dan difus, dengan perubahan pada pembuluh darah retina, arteri menciut dan vena melebar. Jika ditemukan gambaran eksudat star figure, mengarahkan diagnosa kepada neuroretinitis.

Tes diagnostik seperti MRI, analisis cairan serebrospinal dan serologi, umumnya dipakai dengan alasan sebagai berikut8:
1.Untuk menentukan penyebabnya apakah suatu proses inflamasi atau non inflamasi, nonidiopathi, dan infeksi.
2.Untuk menentukan prognosisnya, apakah akan berkembang secara klinis menjadi multipel sklerosis.

a. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI penting untuk memutuskan apakah daerah di otak telah terjadi kerusakan myelin, yang mengindikasikan resiko tinggi berkembangnya sklerosis multipel. MRI juga dapat membantu menyingkirkan kemungkinan tumor atau kondisi lain5. Pada pasien yang dicurigai menderita neuritis optikus, pemeriksaan MRI otak dan orbita dengan fat suppression dan gadolinium sebaiknya dilakukan dengan tujuan untuk konfirmasi diagnosis dan menilai lesi white matter. MRI dilakukan dalam dua minggu setelah gejala timbul. Pada pemeriksaan MRI otak dan orbita dengan fat suppression dan gadolinium menunjukkan peningkatan dan pelebaran nervus optikus. Lebih penting lagi, MRI dipakai dengan tujuan untuk memutuskan apakah terdapat lesi ke arah sklerosis multipel. Ciri-ciri resiko tinggi mengarah ke sklerosis multipel adalah terdapat lesi white matter dengan diameter 3 atau lebih, bulat, lokasinya di area periventrikular dan menyebar ke ruangan ventrikular8.
b. Pemeriksaan cairan serebrospinal
Protein ologinal banding pada cairan serebrospinal merupakan penentu sklerosis multipel. Terutama dilakukan terhadap pasien-pasien dengan pemeriksaan MRI normal8.
c. Test Visually Evoked Potentials
Test Visually evoked potentials adalah suatu test yang merekam sistem visual, auditorius dan sensoris yang dapat mengidentifikasi lesi subklinis. Test Visually evoked potentials menstimulasi retina dengan pola papan catur13, dapat mendeteksi konduksi sinyal elektrik yang lambat sebagai hasil dari kerusakan daerah nervus5.
d.Pemeriksaan darah
Pemeriksaan tes darah NMO-IgG untuk memeriksa antibodi neuromyelitis optica. Pasien dengan neuritis optikus berat sebaiknya menjalani pemeriksaan ini untuk mendeteksi apakah berkembang menjadi neuromyelitis optica. Pemeriksaan tingkat sedimen eritrosit (erythrocyte sedimentation rate (ESR)) dipakai untuk mendeteksi inflamasi pada tubuh, tes ini dapat menentukan apakah neuritis optikus disebabkan oleh inflamasi arteri kranialis

 

Diagnosis Banding

1. Papilitis
Papilitis adalah inflamasi yang mengenai nervus optikus di dalam bola mata, merupakan salah satu tipe neuritis optikus yang sering terjadi pada anak-anak, memiliki gejala yang sama dengan neuritis retrobulbar tetapi pada pemeriksaan dengan opthalmoskopis dapat ditemukan pembengkakan pada diskus optikus13, hiperemi, tepi kabur dan semua pembuluh darah dilatasi.
2. Compressive optic neuropathy
Terdapat kehilangan penglihatan akut. Pola kehilangan lapang pandang menunjukkan penyebabnya non inflamasi, misalnya ditemukan kehilangan penglihatan pada mata lainnya. CT Scan atau MRI dapat mengidentifikasi lesi kompresif pada orbita dan khiasma. Pada Compressive optic neuropathy tidak terdapat pemulihan penglihatan.
3. Nonarteritic anterior ischemic optic neuropathy
Terdapatnya nyeri terutama pada pergerakan mata (meskipun tidak mutlak) secara klinis dapat membedakan neuritis optikus dengan nonarteritic anterior ischemic optic neuropathy.
4.Syndrom viral dan post viral
Parainfectious optic neuritis umumnya mengikuti onset infeksi virus selama 1-3 minggu, tetapi dapat juga sebagai phenomena post vaksinasi. Umumnya mengenai anak-anak daripada dewasa dan terjadi karena proses imunologi yang menghasilkan demielinisasi nervus optikus. Post viral atau parainfeksius neuritis optikus dapat terjadi unilateral tetapi sering bilateral. Diskus optikus dapat normal atau terjadi pembengkakan

 

Terapi 

Terapi Jangka Pendek

Dalam ONTT, pada pasien yang diberi perlakuan dalam 8 hari setelah onset gejala untuk menerima prednison oral (1 mg per kilogram berat badan per hari selama 14 hari, dengan selanjutnya tapering-off selama 4 hari), dan pasien yang menerima intravena metilprednisolon (250 mg setiap 6 jam selama 3 hari) diikuti dengan prednison oral mg (1 per kilogram per hari selama 11 hari, dengan selanjutnya tapering-off selama 4 hari), atau oral placebo. Pengobatan dengan metilprednisolon intravena ternyata menghasilkan pemulihan visus yang lebih cepat. Angka kejadian multiple sclerosis dua tahun setelah pengobatan dengan infus metilprednisolon sebesar 7,5 persen, dibandingkan dengan 14,7 persen di antara pasien yang menerima prednisone dan 16,7 persen placebo.

Menurut Wills Eye Manual, terapi terhadap neuritis optik adalah sebagai berikut:

Pasien tanpa riwayat Multiple Sclerosis atau Neuritis optikus :

1.      Dari hasil MRI bila terdapat minimum 1  lesi demielinasi tipikal :

Regimen selama 2 minggu :

a.      3 hari pertama diberikan Methylprednisolone 1kg/kg/hari  i.v

b.      11 hari setelahnya dilanjutkan dengan Prednisolone 1mg/kg/hari oral

c.      Tapering off dengan cara 20 mg prednisone oral untuk hari pertama ( hari ke 15  sejak pemberian obat ) dan 10 mg prednisone oral pada hari ke 2 sampai ke 4

d.     Dapat diberikan Ranitidine 150 mg oral untuk profilaksis gastritis

Menurut Neuritis optikus Treatment Trial (ONTT) pengobatan dengan steroid dapat menurunkan progresivitas Multiple sclerosis selama 3 tahun. Terapi steroid hanya mempercepatkan pemulihan visual tapi tidak meningkatkan hasil pemulihan pandangan visual.

2.      Dari hasil MRI bila 2 atau lebih lesi demielinasi :

a.    Menggunakan regimen yang sama dengan yang di atas

b.    Merujukan pasien ke spesialis neurologi untuk terapi interferon β-1α selama 28 hari

c.    Tidak menggunakan oral prednisolone sebagai terapi primer karena dapat meningkatkan resiko rekuren atau kekambuhan

3.      Dengan tidak ada lesi demielinasi dari hasil MRI :

a.       Risiko terjadi MS rendah, kemungkinan terjadi sekitar 22% setelah 10 tahun kemudian

b.      Intravena steroid dapat digunakan untuk mempercepatkan pemulihan visual

c.       Biasanya tidak dianjurkan untuk terapi kecuali muncul gangguan visual pada mata kontralateral

d.      MRI lagi dalam 1 tahun kemudian

Pasien dengan riwayat Multiple sclerosis atau Neuritis optikus :

1.      Observasi

2.      Memeriksa pasien pada minggu ke 4-6 setelah muncul gejala dan pemeriksaan ulang tiap 3-6 bulan kemudian

3.      Pasien yang berisiko tinggi MS atau demielinisasi sistem saraf pusat dari hasil MRI sebaiknya dirujuk ke spesialis neurologi untuk evaluasi dan terapi lanjutan.

Terapi jangka panjang

Interferon beta-1a dan interferon beta-1b telah terbukti dapat  mengurangi angka kejadian multipel sklerosis pada pasien dengan demielinasi akut optik neuritis dan dua atau lebih karakteristik dari lesi demielinisasi pada MRI. Controlled high-risk Subjects Avonex Multiple Sclerosis Prevention Study (CHAMPS) termasuk 383 pasien dengan neuritis optik akut atau demielinasi lainnya yang berada pada resiko tinggi untuk terkena multiple sclerosis berdasar bukti MRI (dua atau lebih whitematter lesion). Semua pasien menerima 1 g per hari intravena metilprednisolon selama 3 hari; 193 pasien secara acak diberikan suntikan intramuskular 30 mg interferon beta-1a (Avonex) selama 27 hari dan 190 secara acak untuk suntikan mingguan plasebo. pasien yang diobati dengan interferon beta-1a memiliki angka probabilitas lebih rendah untuk terjadinya multiple sklerosi selama 3 dibandingkan dengan mereka yang menerima placebo.

Pada model eksperimen sklerosis multipel, terapi dengan immunoglobulin intravena telah ditunjukkan terjadi remielinisasi pada sistem syaraf sentral. Penelitian lain menyarankan bahwa terapi dengan immunoglobulin bermanfaat pada pasien neuritis optikus dengan penurunan penglihatan yang jelas. Akan tetapi dalam penelitian terbaru tentang immunoglobulin intravena dengan placebo pada 55 pasien sklerosis multipel dengan kehilangan penglihatan tetap (20/ 40 atau lebih rendah) yang disertai neuritis optikus tidak menunjukkan pemulihan yang signifikan terhadap tajam penglihatan.
Jika pada pemeriksaan dengan MRI ditemukan lesi white matter dua atau lebih (diameter 3 atau lebih) diterapi berdasarkan rekomendasi dari ONTT, CHAMPS, dan ETOMS, yaitu8:
1.Metilprednisolon IV (1 g per hari, dosis tunggal atau dosis terbagi selama 3 hari) diikuti dengan prednison oral (1 mg/ kg BB/ hari selama 11 hari kemudian 4 hari taper).
2.Interferon ß-1a (30 Avonex μg intramuskular satu kali seminggu).
Pada pasien monosymptomatik dengan lesi white matter pada MRI kurang dari 2, dan yang telah didiagnosis CDMS, diberikan terapi metilprednisolon (diikuti prednison oral) dapat dipertimbangkan untuk memulihkan penglihatan, tetapi ini tidak memperbaiki untuk jangka panjang. Berdasarkan hasil penelitian dari ONTT, penggunaan prednison oral saja (sebelumnya tidak diterapi dengan metilprednisolon IV ) dapat meningkatkan resiko rekurensi

Pengobatan neuritis optik tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Gangguan penglihatan yang disebabkan infeksi virus akan membaik sendiri setelah diberikan pengobatan terhadap virus. Neuritis optik yang disebabkan bahan-bahan beracun dapat diatasi bila sumber-sumber/kontak dengan racun dihindari.
Pemberian kortikosteroid suntikan yang dilanjutkan dengan pemberian oral pada penderita neuritis optik akibat sklerosis multipel sangat cepat memperbaiki penglihatan penderita, tetapi masih diperdebatkan penggunaanya untuk mencegah kekambuhan. Terapi Percobaan Neuritis Optik menunjukkan bahwa steroid yang diberikan dengan suntikkan intravena efektif untuk mengurangi serangan neuritis optik akibat penyakit sklerosis multipel hingga 2 tahun, tetapi perlu penelitian lebih lanjut. Prednison yang diberikan secara oral tampaknya dapat meningkatkan serangan berulang neuritis optik sehingga terapi ini tidak dianjurkan.


Prognosis
Gangguan penglihatan yang disebabkan karena neuritis optik biasanya bersifat sementara. Remisi (penyembuhan) spontan terjadi dalam dua hingga lima minggu. Saat masa pemulihan, 65% – 80% ketajaman penglihatan penderita menjadi lebih baik. Prognosis jangka panjang tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Jika serangan ini ditimbulkan oleh infeksi virus maka akan mengalami penyembuhan sendiri tanpa meninggalkan efek samping. Jika neuritis optik dipicu oleh sklerosis multipel, maka serangan berikutnya harus dihindari. Tigapuluh tiga persen penderita neuritis optik akan kambuh dalam lima tahun. Tiap kekambuhan menyebabkan pemulihannya tidak sempurna bahkan memperburuk penglihatan seseorang. Ada hubungan yang kuat antara neuritis optik dengan sklerosis multipel. Pada orang yang tidak mengalami sklerosis multipel maka separuh dari mereka yang mengalami gangguan penglihatan akibat neuritis optik akan menderita penyakit ini dalam 15 tahun. Sebagian besar pasien sembuh sempurna atau mendekati sempurna setelah 6-12 minggu11, sebanyak 95% pasien pulih penglihatannya menjadi visus 20/ 40 atau lebih baik16. Begitu proses pemulihan dimulai, sebagian besar pasien mencapai perbaikan maksimal dalam 1-2 bulan, meskipun pemulihan dalam 1 tahun juga memungkinan. Derajat keparahan kehilangan penglihatan awal menjadi penentu terhadap prognosis penglihatan. Meskipun penglihatan dapat pulih menjadi 20/20 atau bahkan lebih baik, banyak pasien dengan acute demyelinating optic neuritis berlanjut menjadi kelainan pada penglihatan yang mempengaruhi fungsi harian dan kualitas hidupnya. Kelainan tajam penglihatan (15-30%), sensitivitas kontras (63-100%), penglihatan warna (33-100%), lapang pandang (62-100%), stereopsis (89%), terang gelap (89–100%), reaksi pupil afferent (55–92%), diskus optikus (60–80%), dan visual-evoked potential (63–100%). Rekurensi dapat terjadi pada mata yang lain, kira-kira 30% dari partisipan ONNT terdapat episode ke 2 pada mata yang lain dalam 5 tahun

Perbaikan  visual yang terjadi pada penderita ON ini cukup cepat, bertahap dan berlangsung hingga 1 tahun setelah serangan. Ketajaman visual yang diperoleh rata-rata 1 tahun setelah serangan neuritis optik adalah 20/15, dan kurang dari 10% pasien memiliki ketajaman visual tetap kurang dari 20/40. Parameter lain dari fungsi visual, termasuk sensitivitas kontras, persepsi warna, dan lapang pandang, meningkat seiring dengan peningkatan ketajaman visual. Kebanyakan  dari pasien, yang mengalami serangan neuritis optic lebih dari sekali, dapat mempertahankan visus yang sangat baik selama minimal 15 tahun setelah serangan neuritis optic pertama.

Meskipun prognosis keseluruhan untuk ketajaman visual setelah serangan neuritis optik akut sangat baik, beberapa dari pasien mengalami hilangnya penglihatan cukup parah yang menetap setelah satu kali serangan. Lebih jauh lagi, bahkan pasien dengan peningkatan fungsi visual untuk “normal” mungkin mengeluh photopsias atau kehilangan visual sementara akibat overheat atau setelah olahraga (Uhthoff phenomenon). Dua hipotesis utama tentang gejala Uhthoff adalah bahwa peningkatan suhu tubuh dapat mengganggu konduksi dari akson n. optic olahraga dapat mempengaruhi lingkungan metabolic disekitar n. optic yang juga dapat mengganggu konduksi dari akson.

Sekitar 25% pasien yang mengalami serangan neuritis optik akut akan mengalami serangan kedua pada mata yang sakit atau serangan baru pada mata yang sebelumnya tidak terkena. Resiko kambuhnya atau serangan baru secara substansial lebih tinggi pada pasien yang diobati dengan dosis rendah prednison oral dibandingkan pasien yang tidak mendapat perawatan atau yang dirawat dengan 3-hari dosis tinggi (1 g / hari) intravena metilprednisolon diikuti dengan 2-minggu dosis rendah (1 mg / kg / hari) prednison.

Komplikasi
1)    penglihatan kabur
2)    bintik/bercak buta, terutama pertengahan lapang pandang
3)    nyeri saat pergerakkan bola mata
4)    sakit kepala
5)    buta warna mendadak
6)    gangguan penglihatan pada malam hari
7)    gangguan ketajaman penglihatan(

This entry was posted in Penglihatan. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>